Militansi Muslimah
Penulis : Neng Sausan
KotaSantri.com : Semakin lama dunia menjadi tak ramah. Kebatilan mulai berani menampakkan belangnya, sementara kebenaran kerap malu-malu merangkak ke depan. Padahal saat-saat seperti ini kita sangat membutuhkan loyalitas yang tinggi terhadap agama untuk membentuk pribadi yang tangguh dan militansi beragama.
Jangan terburu-buru dalam memaknai kata militansi, sehingga terkesan prontal dan radikal. Ini merupakan interpretasi yang salah dalam wacana militan beragama, yang sesungguhnya merupakan produk Yahudi dan Nasrani, yang bertujuan menjauhkan umat Islam dari agamanya. Padahal sesungguhnya militansi beragama dalam artian sebenarnya adalah mengamalkan agama dengan taat, benar, sepenuh hati, dan totalitas.
Sebagai seorang muslimah hendaklah cepat menyadari bahaya yang terjadi di sekitar kita, terutama pengaruh globalisasi yang tengah melanda dunia. Hal ini ditandai dengan hegemonisasi produk makanan (food), hiburan (fun), model pakaian (fashion), dan thougt (pemikiran). Belum lagi model pergaulan bebas yang semakin lepas dan merajalela.
Semua itu menuntut para muslimah untuk menjaga dirinya agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dapat menghancurkan identitasnya sebagai muslimah. Ketika kita telah berikrar menjadi seorang muslimah yang baik, maka secara tidak langsung kita pun berkomitmen untuk menjaga identitas kemuslimahan yang kita sandang. Tidak hanya terbatas lisan, tapi juga hati dan perbuatan.
Mengapa demikian? Karena Militansi tumbuh dari pemahaman, pemahaman menumbuhkan keyakinan, keyakinan kemudian menumbuhkan ketundukan hati, dan ketundukan hati akan melahirkan sikap dan amal. Semua ini disyari’atkan dalam firmanNya, “Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwa Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk kepadanya. Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
Menjadi muslimah militan memberikan dampak yang sangat positif dalam berbagai aspek. Baik itu untuk dirinya, lingkungan sekitar, dan keturunan yang akan dilahirkannya ke muka bumi ini. Karena militansi beragama dipenuhi dengan ruh dan akhlak Mahmudah, serta komitmen yang tinggi terhadap Islam secara jasadan (fisik), rûhan (spiritual), qalban (intuisi), dan fikran (pikiran).
Bukan cerita yang aneh lagi, saat Kristenisasi mulai merambah kehidupan muslimah, yang merupakan salah satu target utama dalam upaya melumpuhkan Islam. Sehingga tidak heran jika banyak ditemukan para muslimah yang menikah dengan non muslim. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah bahwa tidak sedikit para muslimah yang sudah dimurtadkan, innalilahi wa inna ilaihi raji’un.
Itu semua tidak lain disebabkan oleh kurangnya pembekalan diri muslimah secara utuh, baik ruhi (spiritual), fikri (ilmu dan wawasan), dan manhaji (metode dan konsep beragama). Sebagai Muslimah kita dituntut untuk lebih membuka mata hati. Ingatlah Rasulullah telah bersabda, “Fitnah terbesar yang menyebabkan kehancuran bani Israil adalah wanita.”
Hadits tersebut tentunya bukan untuk menciutkan dan menjadikan para muslimah putus asa, tapi sebagai peringatan dan sugesti kepada kita semua untuk senantiasa berusaha berbuat lebih baik dan meningkatkan kualitas diri serta komitmen dalam melaksanakan tuntunan syari’at.
Disadari atau tidak, sebagian besar wanita sering terpengaruh dengan kehidupan materialistik, hedonisme, hura-hura, dan santai. Sebagai seorang muslimah, sedapat mungkin berupaya untuk menghindari budaya hidup seperti itu. Karena tidak hanya bisa membuat rapuh pribadi muslimah, hal ini bahkan dapat membuat kita enggan untuk bergerak dan berjuang. Sementara perjuangan dan kemalasan adalah dua kutub yang tidak akan pernah bisa dipadukan.
Kehancuran diri bermula ketika kecenderungan materialistik lebih tinggi dari semangat kebersahajaan dan pola hidup sederhana (qana’ah), sehingga secara perlahan kita akan melupakan Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, karena kita terpola dan diperbudak oleh hasrat memiliki dunia.
Hendaklah kita berkaca pada Ummahatul mukminin dan shahabiyat, mereka adalah cermin para muslimah militan sejati. Malu rasanya bila dibandingkan dengan mereka, tantangan yang mereka hadapi jauh lebih berat, sementara sarana dan fasilitas yang mereka dapatkan jauh lebih sedikit dari yang kita miliki saat ini, tapi mereka tetap tampil menawan dengan militansi keimanan hingga akhir hayatnya.
Setidaknya ada 4 hal dominan yang banyak menyebabkan menurunnya militansi seorang muslimah, yakni :
1. Lemah dalam Mengurus Diri Sendiri
Yaitu seorang muslimah yang tidak mampu membentengi dirinya dengan pertahanan. Kondisi seperti ini rentan terhadap godaan yang ada, dan mudah terjerumus dalam maksiat. Hal ini disebabkan kurangnya pendidikan dzatiyah (potensi dan kepribadian) dan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
2. Bermain-main dengan Dosa
Terkadang ada fase di mana kejenuhan datang. Ini masa yang pasti akan muncul. Di mana syaithan mulai bermain dengan sangat gesit dan piawai, mengajak manusia untuk berbuat dosa. Celah-celah kemaksiatan seolah terbuka dengan lebar. Mungkin awalnya hanya iseng dan coba-coba dengan dosa yang ringan. Tapi justru itulah awal kehancuran.
Rasulullah SAW telah mengingatkan agar masa-masa kejenuhan dilewati tetap dalam bingkai hukum Islam dan syariatNya, bukan dengan melegalkan kemaksiatan sesuka hati. Yang pada akhirnya membuat diri semakin dalam terjerumus, dan enggan untuk bangkit.
3. Beban yang Berlebihan
Sebagai seorang wanita, perasaan lebih dominan berperan ketimbang logika. Sehingga ketika ada masalah yang sedikit saja, rasanya beban terasa lebih berat dan berlipat ganda. Baik itu masalah keluarga, himpitan ekonomi, pendidikan yang gagal, dan lain-lain. Jika tidak segera diselesaikan dengan baik, sedikit demi sedikit hal ini akan meruntuhkan militansi dan prinsip hidup.
Dan kunci menghadapi permasalahan adalah dengan kesabaran dan tawakal. Jangan sampai permasalahan dan problema yang melanda membuat muslimah menggadaikan jati diri dan identitas keislamannya.
4. Bergesernya Presepsi Tentang Hidup
Saat orientasi kita bukan lagi dikembalikan pada Allah, semakin menjauhkan kita dariNya. Begitu pun dengan pandangan hidup yang berubah pada gaya hidup materialistik. Dengan kata lain, sikap untuk menggapai dunia membuat kita lalai kepada Allah dan lupa kewajiban kepadaNya.
Kita tentu masih mengingat cerita Qarun dan Nabi Musa, bagaimana saat itu kaumnya lebih tertarik pada fenomena Qarun dan gelimangan hartanya dibanding fenomena Musa. Sehingga lambat laun, militansi yang dimiliki mulai mengendur hingga hilang sama sekali.
Akhirnya, setiap diri kita dituntut untuk meningkatkan militansi dalam beragama. Dengan cara menjaga keikhlasan dan kemurnian orientasi perjuangan karena Allah. Kemudian menguatkan komitmen untuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagaimana yang dilakukan para Sahabat dan Shahabiyatnya. Membersihkan jiwa dari segala penyakit, dan berusaha untuk mendekatkan diri kepadaNya, serta zuhud pada dunia.
Kita pun berusaha menghindari penyimpangan-penyimpangan sekecil apapun. Satu hal yang penting bahwa setiap kita adalah calon ibu (bagi yang belum menikah), di mana kita memiliki peran penting melahirkan generasi Rabbani yang akan turut memperjuangkan Islam. Tanamkan juga militansi pada anak-anak sejak dini, seperti halnya shahabiyat yang melahirkan anak-anak yang cerdas dan militan.
Nah! Apalagi yang kita tunggu. Bersegeralah menciptakan kebaikan. Jadilah muslimah militan, hingga akhirnya bidadari surga pun cemburu, ingin bergabung dalam barisan para pejuang. [sinaimesir.com]
assalamu’alaikum wr.wb
hayo…di si lagi mab…!!!:)