• Beranda
  • hIkmaH
  • iNtRosPeKSi
  • mUsLimAh
  • mY galerY
  • pRoFil AkU
  • reNungAn

sAlaM hAngAt

manjadda wa jadda

Feeds:
Tulisan
Komentar

pRoFil AkU

misyati bersama sang suami

tUk zAhwa tErSaYang

100_7861.jpg

Masih kudengar jerit lengkingmu..
ketika kau hadir menghiasi dunia ini
begitu mempesonanya kesucianmu
bagaikan indahnya bias sang surya

 100_78591.jpg

 

Bidadari kecilku.. kini kau mulai tumbuh..
Seribu kasih sayang kutumpahkan kepadamu
Seribu benih cinta kusemaikan dalam hatimu
Kini kau mulai bersinar …
Memberikan arti dalam hidupku..

 

Bidadari kecilku …
Sinarilah duniamu
Tebarkanlah cintamu, senyumu…
Ulurkanlah tangan mu
karena dunia menantimu..

profil aQ

nAma MisYati, dilahRkAn di KebUmen 5 mei 1983 jadi Dah Umur BerApa tuh…..?(yAh KIrA2 27 taHun gTU).

 

uNtUK sTatUs sUdaH beRsuAmi + sAtu AnaK(adEkkK ZhaHira zAyWa HafiZha )

 

kEdiAman teTapNya Sih dI ciMaHi LaHir d kEbumEn(jAwA tEngAH ) —tUK sUamI dari daErah jAWA paLing Timur. KetemunYa sie d aJawA bAraT ( he..he..)

 

uNtuk mOto : sEnanTiasa saBar & syuKur aPApun keHendaNYA.

 

trus vIsi : Jadi oRanG baik di dUNia & beSok Harus LEBIH bAiK.

 

mIsi : – kerja keras tuk dapatkan perusahaan yang banyak, tentunya bisa imanfaatkan untuk ummat. IA

- menjadi istri yang baik di keseharianya,

- menjadi Ibu yang baik buat Zhahira

 

tiGgAl sEkarang : Kota Cimahi

 

AktifiTas :ibu Rumah Tangga, Pendidik, bisnis WomeN, Peternak,T’lm haRmoni,silmi TC.

Kecemburuan Istri Rasulullah
Penulis : Satya Aditya

KotaSantri.com : Cemburu merupakan tanda adanya cinta, mustahil orang yang mengakui mencintai kekasihnya (suaminya/istrinya) tidak memiliki rasa cemburu. Cemburu merupakan tanda kesempurnaan cinta, akan tetapi cemburu bisa tercela apabila terlalu berlebihan dan melampui batas. Aisyah RA adalah seorang wanita pencemburu. Hal ini terjadi karena begitu besar rasa cintanya kepada kekasihnya, yaitu Rasulullah SAW.

Dari Aisyah, bahwa Rasulullah SAW keluar dari rumahnya pada suatu malam. Aisyah menuturkan : Maka aku pun menjadi cemburu kepada beliau sekiranya beliau mendatangi istri yang lain. Kemudian beliau kembali lagi dan melihat apa yang terjadi pada diriku. “Apakah engkau sedang cemburu?” tanya beliau. “Apakah orang semacam aku ini tidak layak cemburu terhadap orang seperti engkau?” tanyaku. “Rupanya syetan telah datang kepadamu,” sabda beliau. “Apakah ada syetan besertaku?” tanyaku. “Tak seorang pun melainkan bersamanya ada syetan.” jawab beliau. “Besertamu pula?” tanyaku. “Ya, hanya saja Allah menolongku untuk mengalahkannya sehingga aku selamat,” jawab beliau. (HR. Muslim dan Nasa’i).

Dari Aisyah, dia berkata : Aku tidak pernah melihat orang yang pandai masak seperti halnya Shafiyah. Suatu hari dia membuatkan makanan bagi Rasulullah SAW yang ketika itu beliau di rumahku. Seketika itu badanku gemetar karena rasa cemburu yang menggelegak. Lalu aku memecahkan bejana Shafiyah. Aku pun menjadi menyesal sendiri. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa tebusan atas yang aku lakukan ini?” Beliau menjawab, “Bejana harus diganti dengan bejana yang sama, makanan harus diganti dengan makanan yang sama.” (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).

Sedangkan dalam riwayat lain dari Anas bin Malik RA, dia menceritakan : Nabi SAW pernah berada di sisi salah seorang istrinya. Kemudian seorang dari ummul mukminin mengirimkan satu mangkuk makanan. Lalu istri Nabi yang berada di rumahnya memukul tangan Rasulullah sehingga mangkuk itu jatuh dan pecah. Maka Nabi pun mengambil dan mengumpulkan makanan di dalamnya. Beliau berkata, “Ibumu cemburu, makanlah.” Maka mereka pun segera memakannya. Sehingga beliau memberikan mangkuk yang masih utuh dari istri di mana beliau berada, dan meninggalkan mangkuk yang telah pecah tersebut di rumah istri yang memecahkannya. (HR. Bukhari, Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Hadits senada di atas dengan beberapa tambahan, yaitu di dalam Ash-Shahih, dari hadits Humaid dari Anas RA, dia berkata : Ada di antara istri Nabi SAW yang menghadiahkan semangkuk roti dicampur kuah kepada beliau, selagi beliau berada di rumah istri beliau yang lain (Aisyah). Aisyah menepis tangan pembantu yang membawa mangkuk, sehingga mangkuk itu pun jatuh dan pecah. Nabi SAW langsung memunguti roti itu dan meletakkan kembali di atas mangkuk, seraya berkata, “Makanlah. Ibu kalian sedang cemburu.” Setelah itu beliau menunggu mangkuk pengganti dan memberikan mangkuk yang pecah itu kepada Aisyah. (Diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Begitu pula kecemburuan Aisyah terhadap Shafiyah. Tatkala Rasulullah tiba di Madinah bersama Shafiyah yang telah dinikahinya, dan beliau berbulan madu bersamanya di tengah jalan, maka Aisyah berkata : Aku menyamar lalu keluar untuk melihat. Namun beliau mengenaliku. Beliau hendak menghampiriku, namun aku berbalik dan mempercepat langkah kaki. Namun beliau dapat menyusul lalu merengkuhku, seraya bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?” Aku menjawab, “Dia adalah wanita Yahudi di tengah para wanita yang menjadi tawanan.” (HR. Ibnu Majah).

Aisyah RA pernah berkata : Aku tidak pernah cemburu terhadap wanita seperti kecemburuanku terhadap Khadijah, karena Nabi SAW seringkali menyebut namanya. Suatu hari beliau juga menyebut namanya, lalu aku berkata, “Apa yang engkau lakukan terhadap wanita tua yang merah kedua sudut mulutnya? Padahal Allah telah memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadamu.” Beliau bersabda, “Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti yang lebih baik darinya kepadaku.” (Diriwayatkan Bukhari).

Aduhai, kecemburuan yang sangat mendalam hanya karena kekasihnya menyebut wanita lain padahal wanita yang disebutnya telah kembali kepada Zat Yang Mulia tetap membuatnya cemburu. Akan tetapi bisa engkau lihat, ya ukhti, betapa mulianya akhlak Rasulullah terhadap istrinya yang cemburu. Tidaklah beliau mengeluarkan perkataan yang kasar melainkan kata-kata yang haq. Semoga para suami kita bisa meneladani sikap dan akhlak beliau, Nabi SAW. Karena hanya beliaulah sebaik-baik sosok teladan yang patut untuk ditiru dan dicontoh oleh semua umatnya. Sebagaimana dalam firmanNya, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21).

Wallahu a’lam bishshawwab.

Rujukan
1. Al-Qur’anul Karim dan terjemah dalam bahasa Indonesia, Departemen Agama.
2. Fiqh Wanita, Syaikh Kamil Uwaidah, Pustaka Al-Kautsar.
3. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah/
4. Al-Qur’an dan As-Sunnah bicara Tentang Wanita, Muhammad Shiddiq Khan. Darul Falah.

Untukmu Wahai Wanita Muslimah
Penulis : Abdul Shamad bin Muhammad Al-Katib

KotaSantri.com : Seorang wanita muslimah yang beriman akan mencapai kedudukan yang tinggi dan mulia jika memperhatikan aqidahnya yang muncul dari kedalaman hatinya, cinta dan loyalitas kepada Allah Rabbnya, serta berharap dan takut kepada Allah. Inilah aqidah yang mendorongnya untuk berlomba-lomba di dalam ketaatan kepada Allah Rabbnya yang menguasai langit dan bumi dan berlomba-lomba untuk tunduk kepada Allah.

Ketaatan dan ketundukan ini muncul dari ilmu yang kokoh terhadap Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang wanita muslimah yang beriman mengetahui dengan yakin bahwasannya ia diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepadaNya. Dan Allah telah memilih seorang wanita agar menjadi ibu para umat manusia.

Seorang wanita adalah ibu para manusia yang mereka merasa tenang kepadanya, mereka merasa gembira di dunia dan akhirat lantaran suri tauladan seorang wanita yang shalihah dan pendidikannya yang tinggi dan mulia, kepemimpinannya yang lembut dan bijaksana, serta dengan pengajarannya yang bersandar kepada kitab Al-Qur’an dan sunnah RasulNya.

Seorang wanita adalah ibu bagi masyarakat yang bijaksana di rumah suaminya, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita adalah seorang pemimpin di rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya.”

Sebagian penyair mengatakan, Seorang ibu adalah sekolahan / Jika anda menyiapkannya / Berarti anda menyiapkan generasi yang baik / Seorang ibu adalah taman / Jika seseorang memeliharanya, ia akan tumbuh dengan baik / Seorang ibu adalah guru pertama…

Dan tidaklah para ulama yang terkemuka dan para penceramah yang mahir serta fasih melainkan dilahirkan dari perempuan-perempuan yang baik. Maka hendaknya seorang wanita yang shalihah menjadi anak perempuan yang beradab, isteri yang taat, dan seorang ibu yang bertakwa. Hingga masyarakat Islami tumbuh berdiri di atas kesucian, kehormatan, ketakwaan, dan keimanan seorang wanita.

Diterjemahkan dari Majalah Al-Ashalah

Halaman ini dilanjutkan oleh sub-halaman.

  • Sayidatina Fatimah r.ha

Comments Off

  • Komentar Terakhir

    nunu_mjly di Sebuah renungan
    Lia di Tambah usaha baru, agen telor…
    cha_lym di Tambah usaha baru, agen telor…
    kenuzi50 di Tambah usaha baru, agen telor…
    alafghoniabdulah di Syarat Makna
  • Tulisan Teratas

    • Tambah usaha baru, agen telor keren..
    • Menjadi Istri yang sholehah
  • Arsip

    • Januari 2009
    • Mei 2008
    • Maret 2008
    • Januari 2008
    • Desember 2007
    • November 2007
    • Agustus 2007
  • Flickr Photos

    More Photos
  •  

    November 2009
    S S R K J S M
    « Jan    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  

Blog pada WordPress.com.

Tema: Mistylook oleh Sadish